Menolong Dengan Cara Memberdayakan

Lebih dari sekedar menolong, cara menolong dengan memberdayakan akan memberikan dorongan adanya perubahan hidup yang lebih baik & berkualitas bagi orang yang ditolong. Mereka tidak lagi bergantung kepada si penolong tetapi akan menjadi mandiri untuk menjadi berkat, berkelanjutan dan bermultiplikasi.

Helping in an Empowering Way

More than just helping, helping in a way that empowers encourages transformation towards a better quality of life for the people being helped. They are no longer dependent on the helper but become independent to become a blessing which is sustainable and multiplies.

FAQS

Pertanyaan seputar donasi.
dsc_0794.jpg
dsc_9817-copy.jpg

Gerakan 50.000

Melakukan sesuatu yang bernilai “kecil“ untuk membawa dampak yang besar bagi komunitas dengan terlibat dalam G-50. G-50 atau Gerakan 50.000 adalah gerakan penggalangan dana yang dipakai untuk membantu penerapan program-program pengembangan masyarakat di komunitas yang dilayani. G-50 bersifat sukarela, berjangka, transparan dan accountable.

The 50,000 Movement

Do something small to have a big impact on the community by getting involved in G-50. The G-50 or 50,000 Movement ($5US Movement) is a fundraising movement that is used to help implement community development programs in communities. The G-50 is voluntary, temporary, transparent and accountable.

Pijar Kasih Nusantara Foundation

We are a social & humanitarian organization that acts as a catalyst & facilitator in the development of communities.
Love is the basis for our service.

Yayasan Pijar Kasih Nusantara

Kami adalah organisasi sosial & kemanusiaan yang berperan sebagai katalisator & fasilitator dalam pengembangan masyarakat di mana kasih menjadi dasar kami untuk melayani.

Kasih (Love)

Kasih menjadi dasar dalam melakukan pelayanan yang kami dilakukan tanpa membedakan latar belakang agama, suku, ras dan komunitas yang dilayani. Transformasi hidup yang terpadu adalah tujuan kami.

Love is the basis for our service regardless of religious background, ethnicity, race and community being served. Our goal is holistic life transformation.

Pengembangan (Development)

Sebagian besar dana yang diberikan melalui G-50 (Gerakan 50.000) dari donatur akan dipakai dalam program yang bersifat pengembangan bukan program bantuan. Program bantuan tetap bisa diberikan ketika kondisi darurat seperti keadaan bencana alam.

Most of the funds provided by donors to the G-50 ($5US Movement) will be used in development programs rather than aid programs. Aid programs will still be during emergencies such as natural disasters.

PKM

Pelatihan metode PKM (Pengembangan Kesehatan Masyarakat) dilakukan dengan metode yang partisipatif yang sederhana dan mendorong adanya perubahan pola pikir dan gaya hidup pada peserta untuk bisa  melayani sesama dalam konteks pemberdayaan masyarakat yang terpadu.
Hubungi info pelatihan: cdcpkm@gmail.com

The PKM (Community Health Development) training method is carried out using a simple participatory method. It encourages changes in the mindset and lifestyle of the participants so they can serve others in the context of integrated community empowerment.
Contact info for training: cdcpkm@gmail.com

 
 

Produk (Product)

Kami mendukung setiap usaha pengembangan yang telah dilakukan oleh komunitas. Salah satunya menjadi jembatan bagaimana hasil produk-produk dari komunitas dapat dijual khususnya secara online untuk membantu jalannya program pengembangan di komunitas tersebut.
Info lanjut terhadap produk komunitas: @kedaikomunitassehat atau 
Tokopedia Kedai Komunitas Sehat

We try to support all development efforts carried out by the community. One of them is as a bridge for the sale of community products, especially online. This helps the running of development programs in the community.
More info on community products: @kedaikomunitassehat or Tokopedia Kedai Komunitas Sehat

PROGRAM & CERITA INSPIRATIF KOMUNITAS

INSPIRING COMMUNITY PROGRAMS & STORIES

Program SPUK (Stimulus Pengembangan Usaha Keluarga) sharing dari Mas Slamet

Di tengah situasi pandemi yang belum tahu sampai kapan akan berakhir membuat beberapa usaha terkena imbas dari pandemi ini. Salah satunya adalah Slamet dari PKM Keluarga Candimulyo, usahanya di bidang variasi otomotif yang juga ikut terkena imbas dari pandemi ini. Karena ekonomi yang terpuruk membuat masyarakat lebih memilih untuk memenuhi kebutuhan primer dibanding kebutuhan sekunder seperti variasi otomotif.

Hal ini membuat keluarga Slamet merasakan kesulitan karena perputaran ekonominya tersendat. Dana yang seharusnya digunakan untuk membelanjakan bahan-bahan variasi otomotif dialihkan untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari. Akibatnya  usahanya harus tutup sementara.

Setelah melewati masa darurat Covid-19 dengan program bantuan saat ini Yayasan Pijar mulai memberikan dana stimulus melalui program SPUK (Stimulus Program Usaha Keluarga). Sebagian kecil dana akan dikembalikan dan sisanya sebagai stimulus untuk melanjutkan usaha yang telah dilakukan. Bersyukur Slamet dapat  memanfaatkan dana tersebut untuk belanja bahan-bahan variasi otomotif, sehingga usahanya dapat mulai berjalan kembali bersamaan dengan kondisi ekonomi yang sudah bergerak.

 

Sharing from Mas Slamet about the SPUK Program (Family Business Development Stimulus)

 

Many businesses have been affected by this pandemic which has no obvious end in sight. One of them is Slamet from the Candimulyo Family PKM. His business, which involves making adaptions to vehicles, has also affected by the pandemic. Due to the collapsing economy people prefer to meet primary needs rather than secondary needs such as vehicle adaptions.

This caused Slamet’s family experience difficulties due to their struggling economic cycle. Funds that should be used to buy materials for automotive adaptions were diverted to fulfil basic daily needs. As a result, the business had to close temporarily.

After the assistance program to get people through the Covid-19 emergency period, the Pijar Foundation started providing stimulus funds through the SPUK program (Family Business Stimulus Program). Part of the funds will be returned and the rest used as a stimulus to continue the efforts. Thankfully, Slamet was able to use the funds to purchase various automotive materials, so that his business could start running again which coincided with the improving economic conditions.

Budidaya Jamur oleh Supomo – Ngipik Candimulyo

Supomo, salah satu anggota PKM di Ngipik Candimulyo mulai mengembangkan usaha budidaya jamur sebagai upaya transformasi dalam keluarganya. Supomo memilih budidaya jamur tiram karena di daerah Candimulyo masih jarang yang membudidayakannya, sehingga masih terbuka peluang pasar. Selain itu, bahan bakunya pun mudah diperoleh di sekitarnya.

Bahan baku beruba sisa serbuk kayu dapat dengan mudah diperoleh dari depo-depo penggergajian kayu dan di kampung-kampung sekitarnya. Daripada menjadi limbah dan menggangu lingkungan, serbuk itu dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan log jamur. Pengolahan pembuatan log jamur cukup menggunakan kayu bakar yang didapatkan dari kebun. Karena orang-orang saat ini sudah memasak menggunakan gas LPG, sehingga kayu bakar tidak terpakai dan hanya membusuk di kebun.

Dalam usahanya membudidayakan jamur ini Supomo juga menjumpai tantangan, yaitu soal penyakit atau hama yang menyerang jamur. Namun Supomo menemukan cara untuk mengatasinya yaitu dengan melakukan sanitasi kombong menggunakan desinfektan dan selalu menjaga kebersihan tempat produksi dan alat-alat yang digunakan. Tantangan yang lain adalah adanya saingan pasar. Supomo mengatasinya dengan memproduksi jamur yang bervariasi (jamur tiram putih dan jamur tiram cokelat) dan meningkatkan kualitas produk.

Dari pendampingan Pijar bekerja sama dengan Fakultas Bioteknologi UKDW keluarga Supomo telah mendapatkan manfaat dari usaha budidaya jamur. Dari segi ekonomi, mereka merasakan adanya tambahan pendapatan. Dari segi pengetahuan mereka memperoleh tambahan pengetahuan mengenai wirausaha dan budidaya jamur. Dari sisi karakter budidaya jamur ini dapat membantu orang lain dengan membagikan ilmu yang telah dimiliki untuk menjadi berkat.

 

Mushroom Cultivation by Supomo – Ngipik Candimulyo

 

Supomo, one of the PKM members in Ngipik Candimulyo, began a mushroom cultivation business in an effort to transform his family. Supomo chose to cultivate oyster mushrooms because it is rarely done in the Candimulyo area, so there are still market opportunities. As well as that, the raw materials are easily found in the neighbourhood.

Raw materials such as sawdust are easily obtained from sawmill depots and the surrounding villages. Instead of becoming waste and disturbing the environment, the powder is used as raw material for making mushroom logs. Mushroom log processing is possible using firewood from the field. Because people now use LPG gas for cooking the firewood is left unused and rots in the field.

In his efforts to cultivate these mushrooms, Supomo also encountered challenges such as diseases or pests that attack the mushrooms. However, Supomo found a way to overcome this, by sanitizing the kombong using disinfectants and maintaining the cleanliness of the production site and tools used. Another challenge is the presence of competition in the market. Supomo overcomes this by producing a variety of mushrooms (white oyster mushrooms and brown oyster mushrooms) and improving the product quality.

With Pijar's mentoring in collaboration with the UKDW Faculty of Biotechnology, the Supomo family has benefited from the mushroom cultivation business. From an economic point of view, they have gained additional income. In terms of knowledge they have also gained additional knowledge about entrepreneurship and mushroom cultivation. In terms of personal character, the mushroom cultivation has enabled them to share the knowledge they have learned with others and thus becoming a blessing to others.

Sharing PKM Indonesia: Vaksinasi COVID-19

Pada tanggal 4 Februari 2021 Tim Pijar mengadakan pertemuan “Sharing PKM Indonesia: Vaksinasi Covid-19” via online. Sebagai narasumber adalah dr. Emma dan dr. Debby. Tujuan pertemuan ini peserta belajar info yang benar tentang vaksin-vaksin  COVID-19 termasuk kenapa penting divaksin dan kenapa perlu lanjutkan kesehatan protocol. Peserta lebih yakin untuk berbagi info yang benar dengan komunitasnya.

Materi yang disampaikan berdasarkan info yang ada saat itu sampai bulan Feb 2021, dengan tujuan untuk membantu informasi, tidak mengarahkan ke vaksin tertentu, netral dan tidak disponsori oleh perusahaan manapun.  Sekitar 65 peserta yang mengikuti dari berbagai daerah dan pelayanan. Diskusi bisa berjalan dinamis dan ada banyak pertanyaan tentang realita yang terjadi di lapangan. Langkah ini selain memperlengkapi para fasilitator PKM, juga sebagai gerakan kampanye melawan hoax yang beredar di sekitar kita.

 

Sharing PKM Indonesia: COVID-19 Vaccination

 

At the beginning of 2021 there was confusion in response to vaccination information received by the public, which made people worry: Is it safe? Why do we have to be vaccinated? Which vaccines are good? It is necessary that PKM facilitators provide correct information to community members.

On February 4, 2021 The Pijar team held an online meeting "Sharing PKM Indonesia: Covid-19 Vaccination". The resource people were Dr. Emma and Dr. Debby. The purpose of this meeting was for participants to obtain correct information about COVID-19 vaccines, including why it is important to be vaccinated and why it is necessary to continue the health protocols. Afterwards participants were more confident to share correct information with their communities.

The material shared was based on information available until February 2021.  The aim was to provide information that was neutral and not sponsored by any company, and did not lead to a specific vaccine. Around 65 participants attended from various regions and services. Discussions were dynamic and there were many questions about the realities they faced on the ground. This step, in addition to equipping PKM facilitators, was also a campaign against hoaxes that were circulating.

TOT 1 Online: Metode PKM

Satu tahun lebih pandemi COVID-19 belum selesai dan kita tidak boleh menyerah pada situasi tersebut. Di bulan Februari Pijar mengadakan pelatihan online untuk pengembangan masyarakat holistik. Ada 21 peserta yang mengikuti pelatihan tersebut dan berasal dari berbagai tempat di Indonesia yaitu dari Jakarta, Jawa Barat, Sumatra, Kalimantan Selatan, Mamasa dan Yogyakarta. Kami bersyukur walaupun pelatihan dilakukan secara online tetapi tidak mengurangi semangat peserta dan bentuk pelatihan tetap bisa partisipatif.

Pelatihan ini diadakan setiap hari selama 4 jam dan dilakukan dalam lima hari dari tanggal 22-26 Februari 2021 dengan zoom. Waktu yang panjang tentunya tidak mudah bagi peserta untuk menyelesaikan pelatihan. Kami bersyukur bahwa peserta sangat antusias untuk mengikuti pelatihan sampai selesai. Ada satu peserta dari Kalimantan Selatan yang harus ke kota setiap harinya  supaya bisa mendapatkan sinyal yang stabil. Dibutuhkan waktu sekitar 45 menit untuk menuju kota terdekat. Kami melihat komitmen yang luar biasa dari seluruh peserta walaupun dilakukan secara online tetapi bisa berjalan baik dan banyak cerita inspiratif yang kami dapat selama pelatihan ini dilakukan. Saat ini tim Pijar masih terus melakukan pendampingan untuk mendorong mereka bisa menerapkan program PKM di komunitas masing-masing.   

 

TOT-1 Online: PKM Method

 

For more than a year we have been living with the COVID-19 pandemicIt is not over and we must not give up. In February Pijar held an online training for holistic community development. There were 21 participants who took part in the training and they came from various places in Indonesia, such as Jakarta, West Java, Sumatra, South Kalimantan, Mamasa and Yogyakarta. We are grateful that even though the training was carried out online, it did not reduce the enthusiasm of the participants and the training could still be delivered in participatory manner.

 

The training was held on February 22th - 26th, 2021 using Zoom. During 5 days, the online PKM TOT1 training was carried out for about 4 hours per dayIt was not easy for the participants to complete the online training, especially as it was a long time in virtual meeting. 

 

However, we are grateful they remained enthusiasticparticipating in the training until it finished. One participant from South Kalimantan had to go to the city every day to get a stable network. It took about 45 minutes to get to the nearest city. We saw the extraordinary commitment of all participants even though it was held online.  The training went well and we heard many inspirational stories. Currently the Pijar team continues to provide assistance to encourage participants to implement the PKM program in their respective communities.

 

 

Belajar Membuat Sabun secara Daring

Pademi dan pembatasan sosial ternyata tidak menyurutkan semangat para teman-teman jaringan PKM di Indonesia untuk belajar hal baru. Terbukti dengan diadakannya Pelatihan Teknologi Tepat Guna (TTG) membuat sabun batang secara daring, kegiatan ini diikuti oleh teman-teman jaringan PKM dari Papua, NTT, Kalimantan Selatan, Jawa Tengah dan Yogyakarta.

Pelatihan membuat sabun ini disampaikan oleh teman-teman jaringan PKM di Papua yaitu Bapak Yusman dan Ibu Brenda. Meskipun pelatihan ini tidak dilakukan onsite namun peserta tetap antusias menyimak dan mempraktikan dari tempatnya masing-masing. Kami tidak menyangka dapat mengadakan pelatihan TTG yang diikuti oleh teman-teman jaringan PKM dari berbagai daerah. Meskipun diadakan secara daring namun ilmunya tersampaikan dengan baik dan dapat dipraktikan.

Kehadiran sabun menjadi penting di tengah kondisi pandemi saat ini yang mengharuskan kita untuk selalu menjaga kebersihan dengan rajin mencuci tangan, sekarang kami bisa membuat sabun batang sendiri dari rumah.

 

Online Soap Making Class

The current Pandemic and social restrictions did not reduce the enthusiasm of Indonesia’s PKM network to learn new things. This was clear in the holding of an online soap making class, an example of Appropriate Technology Training (TTG). This activity was attended by PKM networks from Papua, NTT, South Kalimantan, Central Java and Yogyakarta.

The online soap making class was delivered by Mr. Yusman and Mrs. Brenda, they are part of the PKM network in Papua. Even though this training was not conducted onsite, the participants were still enthusiastic to listen and practice from their locations. We did not expect to be able to hold a TTG training attended by PKM networks from multiple regions. Even though it was held online, the skills training was delivered well and could be practiced. 

The availability of soap is important in the midst of the current pandemic which requires us to maintain cleanliness by diligently washing our hands. Now we can make our own soap bars from home.

 

Rekan Kami

Posisi Kantor
©2021 Pijar Kasih Nusantara. All Rights Reserved. Designed By Pijar Kasih Nusantara